Mendongeng/bercerita merupakan keterampilan berbahasa lisan
yang bersifat produktif. Dengan demikian, mendongeng/bercerita menjadi bagian
dari keterampilan berbicara. Keterampilan mendongeng sangat penting bagi
penumbuhkembangan keterampilan berbicara bukan hanya sebagai keterampilan
berkomunikasi, melainkan juga sebagai seni. Dikatakan demikian karena
mendongeng memerlukan kedua keterampilan berbicara tersebut.
Mendongeng adalah menceritakan dongeng, yakni cerita yang
tidak benar-benar terjadi; terutama tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh
kepada pendengar. Berdasarkan pengertian ini, pendongeng dituntut mampu
memanfaatkan sarana fisik berupa alat penghasil suara secara optimal. Malahan,
jika mendongeng itu dilakukan di hadapan pendengar, ia dituntut pula mampu
memanfaatkan sarana fisik lainya, yakni tubuh dan anggota tubuh untuk melakukan
mimik dan pantomimik yang menarik.
Jangan dulu mendongeng sebelum belajar mendongeng
Artinya, kita harus terlebih dahulu memahami dan tahu
mengenai dongeng itu sendiri. Dalam hal ini kita harus mengetahui lebih dahulu
apa itu dongeng, apa saja ciri-cirinya, Kata-kata apa yang digunakan dalam
dongeng. Nah, kemudian kita mulai belajar memperhatikan orang ketika
mendongeng. Mengetahui apa itu mendongeng, apa maksudnya, bagaimana caranya.
Pada akhirnya itu akan menjadi bekal untuk kita.
Dalam mendongeng sebaiknya kita terlebih dahulu memahami
& menhafalkan isi cerita
Memahami disini berarti kita mengenal setiap karakter dari
masing-masing tokoh serta mengerti alur ceritanya sehingga tanpa perlu
repot-repot kita akan hafal dengan sendirinya.
Dalam mendongeng sebaiknya kita terlebih dahulu tahu tema
dari dongeng tersebut
Dengan kita mengetahui tema dari cerita akan lebih mudah
bagi kita menyampaikan maksud atau inti dari cerita tersebut secara tepat.
Dengan demikian kita juga lebih mengenal dongeng yang kita bacakan.
Dalam mendongeng sebaiknya tema yang kita ceritakan berakhir
pada hari itu juga (bukan cerita bersambung)
Jika dongeng yang kita bacakan merupakan cerita bersambung
akan lebih sulita bagi kita meenyampaikan maksud sebenarnya dari dongneg dan
juga akhirnya akan menyulitkan kita, karena pabila penonton lupa cerita awal
maka kita harus membahasnya lagi atau malah menceritakannya lagi dibeberapa
bagian
Dongeng yang dibawakan hendaknya mengandung makna yang dapat
membangun karakter anak
Pada dasarnya semua dongeng akan memiliki nilai yang
demikian tetapi kita juga harus memastikan
Alasan Kenapa Orang Mau Mendongeng
1. Karena ingin bisa mendongeng agar dikemudian hari dapat
menjadi pendongeng yang profesional
2. Dapat mendapat kepuasan karena inspirasi dan imaginasi
telah tertuang ketika ia mendongeng
3. Merasa gembira setelah mendongeng karena mendongeng itu
seperti menasehati oranglain atau memberikan petuah yang bermanfaat bagi orang
lain
Mejadi seorang Pendongeng profesional
Untuk menjadi seorang pendongeng profesional kita harus
mampu memenuhi syarat-syarat. Mungkin semua orang dapat menjadi pendongeng,
tetapi tidak semua profesional. Berikut adalah syaratnya..
A. Syarat Fisik.
Pendongeng harus mampu menggunakan penghasil suara secara
lentur sehingga dapat menghasilkan suara yang bervariasi. Ia sama halnya dengan
dalang. Ia harus mampu menyuarakan peran apapun dan adegan apapun. Suatu ketika
ia dapat berperan, misalnya, sebagai pejabat. Berkenaan dengan perannya itu, ia
harus mampu menghasilkan suara yang mantap dan bulat sehingga terdengar
berwibawa. Namun, dalam suatu adegan mungkin sang pejabat itu harus bersuara
dengan geram karena sangat marah dan kecewa. Nah, untuk menampilkan adegan
tersebut ia harus mampu menghasilkan suara yang sesuai dengan tuntutan peran
itu. Pada kesempatan lain mungkin ia harus memerankan nenek atau kakek yang
kondisi fisiknya sangat susah. Ia pun harus mampu menghasilkan suara yang
sesuai dengan peran itu pula. Jadi, jelas bahwa ia harus mempunyai kelenturan
suara. Suara itulah yang menentukan keberhasilan pendongeng lebih-lebih lagi
pendongeng di radio dan kaset.
Pendongeng harus mampu menggunakan penglihatan secara lincah
dan lentur sesuai dengan keperluan. Jika mendongeng di hadapan pendengar, ia
harus menggunakan mata untuk kepentingan ganda. Pertama, mata digunakan untuk
memperkuat mimik. Kedua, sarana itu digunakan pula untuk berkomunikasi dengan
pendengar. Jika akan mendongeng dengan membacakan naskah, ia harus mempelajari
naskah dongeng. Untuk keperluan itu, pemanfaatan mata secara lincah berarti
penggunaan mata dengan gerak yang cepat untuk menangkap maksud naskah secara
utuh. Dalam hal ini mata harus dapat dengan sempurna melihat semua huruf dan
tanda baca yang ada sehingga tidak salah baca. Mata (di samping pendengaran)
juga merupakan sarana fisik yang digunakan untuk berkomunikasi dengan produser,
dan petugas yang lain jika mendongeng melalui radio. Dengan matanya ia dapat
menangkap aba-aba sang produser kapan harus mulai, berhenti, mengakhiri
kegiatan mendongeng (pembacaan naskah dongeng) atau instruksi-instruksi
lainnya.
B. Syarat Mental/Rohani dan Daya Pikir.
Pendongeng harus bersikap mental serius, sabar, lapang dada,
disiplin, taat beribadah, berakhlakul karimah, dan senang berkesenian. Semua
sikap mental tersebut sangat diperlukan oleh pendongeng karena mendongeng
(pembacaan naskah dongeng) memerlukan pemahaman yang sangat mendalam. Pemahaman
dan penghayatan dilakukan dengan penuh keseriusan, kesabaran, dan kedisiplinan.
Pendongeng harus berlapang dada karena mungkin menerima kritik dari pendengar
atau dari pihak lain. Tanpa sikap mental berlapang dada, ia tidak akan menjadi
pendongeng yang dari waktu ke waktu meningkat kemampuannya. Pendongeng harus
berakhlakul karimah karena ia hidup sebagaimana manusia umumnya, yakni bergaul.
Pendongeng yang berakhlakul karimah pasti disenangi dan menyenangkan. Ia akrab
dengan siapapun. Pergaulannya bersifat lintas etnik, lintas agama, dan lintas
golongan. Tanpa sungkan-sungkan ia akan minta maaf jika melakukan kesalahan
betapapun kesalahannya tidak disadari. Suasana pergaulan yang demikian dapat
mengurangi atau malahan menghilangkan ketegangan dan ini jelas mengondisikan
konsentrasi prima. Kondisi konsentrasi prima inilah yang sangat diperlukan
dalam mendongeng. Sementara itu, ketaatan beribadah diperlukan karena menjadi
pengontrol yang jitu dalam segala hal. Kekecewaan atau kekesalan yang
dirasakannya dinetralkan melalui ketaatannya beribadah sebab pada saat
beribadah ia pasrah kepada Sang Khalik. Ia kembali optimistis karena meyakini bahwa
Sang Khalik merupakan sumber dari segala sumber kebajikan; kemampuan,
kecerdasan, ketenangan, inspirasi, dsb. Kegemaran berkesenian menjadi modal
yang sangat penting bagi pendongeng karena mendongeng berkaitan erat dengan
seni. Mendongeng berkaitan dengan seni mengolah suara untuk menghasilkan suara
yang indah didengar.
Pendongeng harus berpikiran cerdas dan kreatif. Kecerdasan
diperlukan karena pendongeng harus dapat menafsirkan isi (naskah) dongeng
secara tepat. Ia tidak boleh menafsirkan isi (naskah) dongeng sesuai dengan
kehendaknya tanpa memperhatikan ide dasar (naskah) dongeng. Ide dasar (naskah)
dongeng itu tidak selalu disampaikan secara eksplisit. Di sinilah ia dituntut
secara cerdas mampu menangkapnya. Dengan kecerdasannya juru wicara dapat mengelompok-ngelompokkan
kata, frasa dan kalimat sehingga ide (naskah) dongeng secara utuh benar-benar
dikuasainya dengan baik. Kreativitas diperlukan ketika mendongeng. Ia harus
mampu secara kreatif mendongeng sehingga menarik. Jika membacakan naskah dongeng,
kadang-kadang ia harus menambah kata-kata tertentu, tetapi kadang-kadang
sebaliknya atau mungkin menggantinya yang lebih tepat. Malahan, pada saat
berlangsungnya pembacaan naskah ia kadang-kadang perlu melakukan improvivasi
yang menambah lebih tepat dan indahnya naskah yang dibacakannya.
Pendongeng harus berpengetahuan umum luas dan
berketerampilan bahasa (Indonesia ).
Pengetahuan umum sangat bermanfaat bagi pendongeng. Dengan memiliki pengetahuan
umum yang luas, ia memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Ini sangat
diperlukan oleh pendongeng. Rasa percaya diri dapat memantapkan mental
pendongeng. Tambahan lagi, dengan pengetahuan umum yang luas itu pula ia dapat
memberikan kritik terhadap kekurangan atau kesalahan yang mungkin terdapat di
dalam naskah. Jika sempit pengetahuan umumnya, ia kurang percaya diri. Ini
kurang menguntungkan. Penampilannya canggung. Sementara itu, keterampilan
berbahasa sangat diperlukan karena dalam pelaksanaan tugasnya pendongeng
berurusan dengan keterampil berbahasa, sekurang-kurangnya tiga keterampilan
berbahasa, yakni menyimak, membaca, dan berbicara. Dua keterampilan yang sangat
dominan ialah membaca dan berbicara. Keterampilan membaca diperlukannya ketika
ia harus membacakan naskah dongeng. Dalam hal ini ia harus mampu menggunakan
lafal dan intonasi yang benar dan indah. Benar berarti sesuai dengan kaidah,
sedangkan indah berarti memperdengarkan nilai yang menyentuh aspek keindahan di
telinga dan juga pada imajinasi. Keterampilan berbicara diperlukannya ketika ia
harus melakukan dialog sebab di dalam dongeng ada dialog antara pemeran yang
satu dan pemeran yang lain. Hal yang demikian terdapat di dalam dongeng, baik
yang disajikan dengan cara "melisankan langsung" maupun yang
disajikan dengan membacakan naskah. Jika mendongeng dengan membacakan naskah
dongeng, ia dituntut mampu membaca dengan gaya
berbicara. Dengan kata lain, ketika membacakan naskah tersebut ia sesungguhnya
berbicara atau meskipun membaca, sesungguhnya ia berbicara. Berkenaan dengan
itu, ia harus mempunyai pengetahuan yang memadai tentang kaidah bahasa yang
mencakupi kaidah fonologis (lafal dan ejaan), morfologis (bentuk kata: dasar
dan turunan), sintaktis (frasa, klausa dan kalimat), dan kewacanaan (lisan).
(Baca: "Kaidah Fonologis Vokal dan Diftong Bahasa Indonesia", dan
"Penggunaan Bahasa dalam Program Audio/Radio")
TIPS dan TRIK MENDONGENG
Membaca naskah secara keseluruhan untuk memperoleh gambaran
umum mengenai cerita;
membaca naskah secara detail adegan demi adegan untuk
memperoleh pemahaman mendalam mengenai (a) tema cerita, (b) sifat dan jenis
dongeng (komedi, tragedi, atau tragedi komedi), (c) alur (bagian-bagian alur
dari awal sampai akhir: memahami suspens, foreshadowing, dan surprise), (iv)
tokoh dan penokohan (memahami tiga dimensi penokohan, yakni dimensi fisiologis,
sosiologis, dan psikologis, juga memahami status atau sifat tokoh: realitas
formal atau realitas imajiner), (v) setting (latar waktu dan tempat), (vi)
dialog/narasi (bermakna lugas atau kias, bagian-bagian penting dialog/narasi),
dan (vii) petunjuk penulis naskah (kalau ada);
menanyakan hal-hal yang belum jelas kepada pengarang (kalau
perlu dan dapat);
mencari personifikasi peran dengan melakukan observasi (baik
observasi nonpartisipasi maupun observasi partisipasi) dan kreativitas berpikir
dan berimajinasi.
Mengenal setting, Dimana pendongeng harus memahami kapan,
dan dimana adegan terjadi.
Mengenal situasi tempat berarti kita harus tahu properti apa
yang digunakan pada saat mendongeng. Kita umpamakan saja itu adalah mikrofon
maka yang haru pendongeng lakukan adalah menghadapkan mulutnya secara tepat.
Untuk menggambarkan percakapan pada jarak dekat, mulut berada pada jarak
sekitar lima
belas sentimeter. Namun, untuk menggambarkan percakapan pada jarak jauh, mulut
berada pada jarak yang cukup jauh atau malahan tidak mengarah lurus pada
mikrofon.
Berdoa sebelum memulai
Didalam diri kita harus ada keseimbangan antara intelektual
dan akhlak, maka setiap orang yang beragama percaya bahwa tidak ada sesuatu
apaun yang tidak mungkin, itu semua didasari pada kepercayaan mereka terhadap
tuhan dari agamanya yang akan mampu memberi apapun yang mereke minta pada-Nya.
Oleh karena itu teman-teman, berdoa itu sangat penting sebagai awal dari segala
aktivitas kita. Kita sebagai salah satu umat beragama harus yakin bahwa Tuhan
akan memudahkan jalan kita apabila kita berdoa untuk itu. Maka marilah kita
senantiasa berdoa dengan harapan segala apa yang kita lakukan akan berawal
dengan baik dan berakhir dengan baik juga.
Berdiri pada posisi yang strategis & variasikan sesuai
alur cerita
Pada tahap ini kita bicara soal dua hal besar yakni,
ekspresi wajah serta posisi dan gerak kaki.
A. Posisi dan Gerak Kaki
Kaki mempunyai fungsi memperkuat watak dan emosi pendongeng.
Dengan posisi tegak lurus, misalnya, kaki mempunyai fungsi mengekspresikan
emosi tertentu; mungkin sedang mengekspresikan ketegasan sikap ketika
menghadapi masalah. Dengan posisi lain, ada maksud lain pula yang
diekspresikan.
Gerak kaki bermacam-macam. Namun, yang perlu diingat ialah
kesesuaiannya dengan watak dan kondisi emosi yang diperankannya. Dalam kondisi
gelisah, misalnya, gerak kaki tidak terarah. Gerakan kaki dalam kedaan normal
yang lazim ialah melangkah maju. Namun, dalam keadaan terdesak, takut, atau
terkejut kaki dapat digerakkan mundur.
B. Ekspresi Wajah
Yang sangat penting peranannya untuk ekspresi wajah ialah
mata. Untuk menunjukkan berbagai eksrepsi emosi matalah yang sangat dominan.
Orang marah, gembira, atau bingung dsb. dapat ditunjukkan melalui pandangan pendongeng.
Sementara itu, mulut memperkuat peranan mata. Oleh karena itu, kedua sarana itu
harus dilatih secara teknis agar dapat berfungsi secara optimal dan lentur.
Berkonsentrasi sebelum memulai
Perlu diingat bahwa konsentrasi itu merupakan hal yang sangat
penting. Jika kita dapat berkonsentrasi kemungkinannya adalah 1% kita lupa
dengan alur cerita dongeng. Konsntrasi akan membuat otak kita memerintahkan
seluruh anggota tubuh kita untuk rileks. Maka bisa dikatakan bahwa tahap
konsentrasi adalah tahap yang sangat penting.
Mengondisikan siswa mendengarkan
Nah, tentunya kita tidak ingin kalau apa yang kita sampaikan
tidak didengar oleh yang menonton, maka kita harus memberikan rambu kepada
mereka untuk menyimak tetapi itu harus kita lakukan dengan cara yang benar dan
sopan, misal kita mengatakan ”Baiklah, akan segera saya mulai saya mohon
perhatiannya” atau ”Ya, karena saya akan mulai maka saya ingin penonton untuk
tenang, terima kasih”.
Memulai dengan cara yang singkat, padat & tepat
Pembuka merupakan cerminan isi maka kita juga harus
memperhatikan point yang satu ini. Berikut adalah beberapa cara mengawali
menceritakan dongeng,
· Salah satu dongeng favorit saya adalah …
· Saya akan menceritakabn dongeng yang sangat saya sukai …
· Dongeng yang terkenal dari daerah saya (kita) adalah ...
· Dongeng yang saya ingat saat saya masih kecil adalah ...
· Dongeng yang sering diceritakan ibu saya adalah ...
Selain contoh diatas teman-teman juga bisa membuat awalan
yang menurut teman-teman menarik atau juga lebih komunikatif.
Melanjutkan dongeng dengan improvisasi yang tepat &
penghayatan
Agar mendapat hasil yang baik ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan, yakni: 1. Pola dan irama berbicara
2. Jarak dengan pendengar perlu diperhatikan
3. Gerak dan sikap tubuh
4. Kontak mata
5. Suara saat berbicara
Menutup dengan baik dan benar
Untuk menutup saya menyarankan untuk mengucap salam dan
terima kasih terlebih dahulu setelah jika teman-teman ingin menambahkan mungkin
jauh lebih baik.
Terakhir adalah KOMUNIKATIF , yakni dapat dilakukan dengan
menggunakan alat peraga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar