Jumat, 15 Juni 2012

Korupsi Orang Kampus

BEBERAPA tahun lalu saya pernah menulis tentang pengalaman saya sebagai guru. Di situ saya teringat dengan cerpen Oemar Bakri yang ditulis Fajar Gitarena, seorang guru SD di Yogyakarta. Dia bercerita tentang seorang guru yang sudah 30 tahun mengabdi dan segera pensiun. Namun, kendaraannya tetap sama: sepeda motor tua yang mogok dan bannya sudah menipis.

Saat motornya akan dijalan­kan untuk menghadapi pele­pa­san pensiun, Oemar Bakri meng­­hadapi masalah. Bannya bo­cor, padahal lubang tam­ba­lannya sudah banyak. Di tanggal tua itu dia tak punya uang. Maka, dia pergi ke bank. Naik bus tak pe­r­lu bayar, karena sopir dan ker­netnya, dulu murid-mu­ridnya.

Di bank dia juga ditolong sa­at antre, karena pimpinan ca­bang mengenalinya sebagai g­u­ru­nya. Namun, saat pulang, uang­nya dirampas copet. Dia me­lapor ke polisi dan polisi yang me­nangkap copet beserta copet­nya ternyata murid-muridnya juga.

Itulah realitas yang dihadapi se­orang guru. Murid-muridnya ada di mana-mana. Ada yang suk­ses menjadi pengusaha dan ma­najer, namun tak sedikit yang ha­rus menguras keringat hidup di jalan. Ada yang menjadi pe­negak hukum, namun juga ada yang ditangkap aparat kare­na melanggar hukum. Kam­pus dan sekolah mendidik yang baik-baik, namun hasilnya siapa yang tahu?

Anak-anak kita tidak hanya be­lajar dari kita, melainkan juga pa­da orang-orang di mana me­re­ka berada. Demikianlah yang saya alami, punya murid di KPK, ke­polisian, dan Mahkamah Agung yang sangat reformis, namun mungkin juga ada yang menjadi tahanan mereka.

Alam semesta tidak berjalan sendiri-sendiri. Kita semua saling berinteraksi, dan apa yang kita lakukan akan menimbulkan akibat-akibat. Seseorang yang berbuat harus rela bertanggung jawab. Menerima hukum sebab-akibat berarti menerima karma. Tak bisa menghindar, kendati bisa memutar-mutar menyu­lit­kan pemeriksa, menyeret orang lain yang tak bersalah. Te­tapi, seperti obat nyamuk yang tidak basah, ujung kepala­nya bisa terbakar juga.

Misalokasi

Korupsi di kampus bela­ka­ngan juga ramai dibe­ritakan. S­e­bagai pendidik saya tentu ikut me­rasa malu dan terpanggil un­tuk menegakkan dan mengem­balikannya. Tetapi, sistem politik s­e­perti ini tampaknya sungguh me­repotkan. Orang-orang kam­pus yang mau menjadi pimpi­nan harus ikut melobi menteri, ka­re­na menteri punya suara yang besar. Melobi menteri ber­arti menemui tokoh-tokoh poli­tik. Demikian pula anggarannya. Se­jak dunia pendidikan men­da­patkan alokasi anggaran yang be­sar, ada tendensi untuk me­nga­lihkan spirit of entrepreneurship yang 10 tahun lalu d­i­dengung-dengungkan, men­jadi spirit of bureaucracy.

Dulu, Anda tentu masih ingat, di baliho-baliho besar di de­pan kampus-kampus PTN ter­pampang tulisan pengu­mu­man pemilihan calon rektor yang isinya mencari orang-orang yang m­e­miliki jiwa kewirausahaan un­tuk memimpin kampus. Arti­nya, rektor harus pandai men­cari uang dari fundraising, men­jual paten, dan seterusnya. Li­hat saja bagaimana Business School di NUS (Singapura) me­miliki ge­dung yang megah bernama ge­dung Mochtar Riyadi, atau War­thon School yang memiliki pro­fe­sor dengan sponsor Su­kanto Ta­noto. Mereka mencari dana agar bisa menghasilkan pendi­di­kan kelas dunia yang berbobot.

Namun, tengoklah apa yang ter­jadi saat ini? Rektor-rektor ter­tentu mencoba menjual “in­de­pendensi” mimbar ilmiah­nya agar menjadi satker (satuan ker­ja) Depdiknas. Alih-alih mem­perbesar resources secaraen­trepre­neurial, mereka justru ber­a­lih ke negara dan melobi pe­jabat dan parlemen untuk men­­dapatkan anggaran negara. Se­lebihnya, Anda tentu tahu sen­diri apa akibatnya.

Melobi uang negara dewasa ini berarti melobi pengambil ke­putusan anggaran aparatur ne­gara, berarti mereka harus men­de­kat pada pelaku-pelaku poli­tik, partai politik, dan aroma uang pun tercium. Yang pasti, me­reka akan bertambah kuat se­c­ara politis karena uang sudah ber­­bicara. Teori perilaku menga­t­a­kan, penjahat keuangan eng­gan berhubungan dengan ba­nyak orang. Mereka hanya ingin “memelihara” orang yang sama.

Apa akibat penggunaan sis­tem yang demikian bagi sis­tem pen­d­idikan di Indonesia? Kam­pus-kampus akan tak bebas lagi ber­pikir. Para pemimpin tak be­bas dari kesucian ilmiah. Penge­lo­­laan keuangan semakin ter­sen­tralisasi. Pemimpin terting­gi da­pat menjadi sangat otoriter, bah­­­kan akan terjadi pem­bo­ro­san dan kebocoran ke­uangan secara be­sar-besaran. Kalau ini di­biar­kan, governance structure akan hanya menjadi bagian dari pen­citraan.

Pendidikan Indonesia akan semakin jauh dari pemupukan modal insani. Terjadi misalokasi besar-besaran dari uang untuk men­didik menjadi uang untuk pem­­bangunan fisik. Beasiswa su­­lit dikorupsi, tetapi bisa diper­lam­bat pembayarannya. Tetapi, ge­­dung-gedung fisik dan pe­ra­la­tan mudah diambil ko­mi­sinya, di­berimark-up, dan seterusnya. Tak heran bila para koruptor le­bih tertarik membangun ge­dung-gedung superbesar ketim­bang memperbaiki mutu tenaga didik.

Alokasi anggaran pun akan be­gitu sulit mengalir ke bawah un­tuk membiayai operasional pen­didikan pada tingkat fakultas atau program studi. Jangan ber­harap gedung-gedung bersih fa­kultas yang dulu Anda sak­sikan, bisa Anda nikmati di hari esok. Pengalaman saya, saat ini untuk mendapatkan tisu toilet saja susah setengah mati.

Di negara-negara yang kaya saja, pemerintah tak mau mem­biar­kan kampus-kam­pusnya ste­ril dari masyarakatnya. Apa­lagi, di negara yang gedung-ge­dung SD-nya masih banyak yang harus dib­a­ngun. Kampus se­harusnya di­pimpin orang-orang berde­di­kasi tinggi, dengan in­tegritas yang tak bisa dibeli oleh kekuasaan.

Kalau sudah demikian, orang-orang kepercayaan politisi akan menguasai kampus, dan orang-orang “lugu” yang diper­caya menjadi wali amanah akan repot menghadapi “jago-jago silat” yang pandai menekuk lutut mereka. Untuk menghadapi orang-orang yang street smart itu, di­perlukan sebuah wawasan dan juri yang tak bisa dibeli pula.

Tak bisa dibeli, bukan hanya oleh uang, tetapi juga oleh mulut ma­­nis, cara-cara halus, kiriman bu­­nga, perhatian atau kehadiran da­­lam acara-acara tertentu. Te­ngok­lah ke bawah, dan bica­ralah de­ngan unit-unit terke­cil, maka ke­benaran akan ditemukan di sana. (*)

Oleh : Rhenald Kasali
Guru Besar FE UI dan Pakar Bisnis dan Strategi
 Padang Ekspres • Kamis, 14/06/2012 12:35 WIB

Tidak ada komentar: